Ajarilah Anak Bermental “Saudagar” Sejak Dini, jika Tidak Entrepeneur

Entrepeneur Muda (s:www.ja-ye.org)

Entrepeneur Muda (sumber:www.ja-ye.org)

Tulisan ini bukan mendidik anak-anak atau siswa-siswi menjadi seorang materialistik, namun mendidik sejak dini anak-anak untuk berpikir proses produksi (menghasilkan), bukan hanya semata menjadi rantai konsumsi (pengguna) semata. Jika tidak mampu menanamkan jiwa entreprenuer pada anak-anak (menghasilkan produk, menciptakan lapangan pekerjaan), maka setidaknya mereka bisa “berdagang”. Mereka mengerti bagaimana meningkatkan value added (nilai tambah) dalam rantai produksi-distribusi-konsumsi.

Tulisan ini muncul seiring meningkatnya pola konsumsi masyarakat meskipun ditengah krisis dan ditengah menurunnya tingkat produksi ataupun  produktivitas masyarakat. Ditengah krisis, penjualan produk-produk impor seperti Iphone, BlackBerry, Fashion, Netbook meningkat drastis. Dan Bandung menjadi salah satu kota yang seolah-olah tidak terkena dampak krisis global yang bermula 2008 silam. Khusus penjualan Netbook 3G Power naik pesat dengan dua hingga tiga unit terjual dalam sehari di kota Bandung.

*****

Dengan jumlah populasi terbesar ke-4 dunia, Indonesia merupakan pasar ekonomi yang sangat potensial. Coba bayangkan jika saja kita mampu membuat sebuah produk dengan profit bersih Rp 1000 yang mana produk tersebut akan dibeli oleh 10% penduduk (23 juta). Dan produk tersebut rutin dibeli oleh para pengguna setiap 1 atau 3 bulan sekali. Maka dalam setahun, kita dapat meraup keuntungan hingga Rp 92 miliar hingga 276 miliar. Ini baru saja 1 produk dengan pangsa 10% pasar. Bagaimana dengan sisanya 90% penduduk lain? Bagaimana dengan produk-produk lainnya seperti makanan ringan, kosmetik, alat elektronik, jasa, kebutuhan pokok lain dll?

Meskipun Indonesia telah 63 tahun merdeka; meskipun Indonesia memiliki tanah yang subur; meskipun Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya; meskipun Indonesia memiliki iklim yang kondusif; meskipun Indonesia memiliki putra-putri cerdas dan  bermoral-bermartabat, namun kenyataannya hingga saat inipun Indonesia  masih sangat bergantung pada luar/asing. Indonesia masih memiliki ketergantungan dalam memenuhi sejumlah kebutuhan pokok seperti gula atau jagung. Produk-produk mendasar rumah tangga seperti sabun mandi, deterjen, pasta gigi, pun diproduksi oleh perusahaan MNC (asing). Begitu juga alat elektronik; HP, TV, Komputer dan kendaraan bermotor baik motor, mobil ataupun bus.

*****

Menurut saya, salah satu sebab dari ketergantungan kita yang luar biasa sehingga kita kurang mandiri dalam memenuhi kebutuhan mendasar dikarenakan mental kita yang tidak mandiri. Mental tidak mandiri telah dibentuk sejak zaman kolonialisme Belanda dan masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kepribadian sebagian besar masyarakat di nusantara. Penjajahan selama 3.5 abad, membuat masyarakat kita tidak memiliki kepercayaan diri, membuat kita selalu menyanjung orang asing dan merendahkan kemampuan anak bangsa sendiri. Disisi lain, anak bangsa kurang bisa mengevaluasi diri memperbaiki diri dan ‘organisasi’nya untuk menjadi lebih baik.

Mental yang telah “membudaya” ini sulit dibenahi dalam waktu yang singkat. Dan salah satu usaha yang sangat mendesak adalah reformasi pendidikan yang mendasar bagi para pendidik maupun anak didik di bangku sekolah. Selama mengenyam pendidikan di SD hingga SMA, saya jarang sekali (jika bisa mengatakan hampir tidak pernah) merasakan adanya pendidikan kemandirian di sekolah saya. Yang ada hanyalah pengajaran atas teori-teori,  sedangkan pendidikan mendasar sangatlah minim.

Sejak SD, semua buku teks sekolah mengajarkan “Ibu Budi ke Pasar pergi  membeli sayur” atau “Bapak Budi ke Toko membeli buku“. Intinya, setiap ke pasar atau toko, kegiatan utamanya adalah membeli dan membeli. Langka sekali mengajarkan kalimat “Ibu Budi ke Pasar menjual Sayur” atau “Bapak Budi pergi ke tokoh menjual hasil kerajinan tangan“. Tidak juga “Bapak Budi pergi bekerja membuat perahu atau mesin pertanian, atau sejenisnya“. Sehingga yang terbenam dalam pemikiran sejak kecil adalah kita sekolah, menimbah ilmu hanya untuk mencari kerja lalu membeli barang konsumsi. Bukan memikirkan bagaimana membuat sebuah produk, menciptakan produk tandingan, dan menjualnya.

Pendidikan-pendidikan seperti inilah yang membuat kita kurang peka, kurang memiliki inisiatif dan peduli untuk menciptakan lapangan pekerjaan, membuat serta menggunakan produk buatan sendiri. Bahkan para pejabat pemerintah pun tidak begitu serius menyikapi impor-impor barang-barang yang sebenarnya rakyat kita mampu memproduksinya. Begitu juga, tidak ada usaha pemerintah dan pengusaha lokal untuk mendorong pembangunan industri yang menguasai hajat hidup orang banyak menggantikan perusahan MNC yang meraup keuntungan yang besar.

Dan parahnya lagi, masyarakat para konsumen seolah-olah tidak peduli lagi untuk meningkatkan value added produk, masyarakat kita hanya ingin menjadi bangsa pengguna, seakan-akan harkat dan martabat kita tidak naik-naik sejak dijajah oleh bangsa Barat. Kita pun sungkan dan enggan menggunakan produk yang berlabelkan “made in Indonesia”, namun kita mau membeli produk dalam negeri yang bercap “merek luar negeri”. Disisi lain, pemerintah lebih mengutamakan perkembangan perusahaan MNC asing ketimbang usaha-usaha kecil menengah milik rakyat kecil di pedesaan. Dan begitu juga, sebagian besar para produsen lokal ’stagnan” dalam berinovasi produk sehingga kualitas produknya tidak meningkat-meningkat. Kedepan, diharapakan seluruh elemen bangsa, yakni pendidik, para siswa, para pengusaha, masyarakat luas serta pemerintah harus sejak dini mengajar anak-anak untuk berjiwa entreprenuer, berjiwa inovasi yang mandiri untuk membangun kejayaan bangsa Indonesia.

Semua itu dimulai dari diri sendiri dan terutama di bangku sekolah. Jadi, didiklah siswa-siswi bermental mandiri, berjiwa entrepeneur, melalui pendidikan dan contoh cerita dalam pelajaran. Dan sejelek-jeleknya mereka mampu menjadi “saudagar”.

Salam Perubahan,

29April 2009 by Putra rafflesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: