Flu Babi Sudah di Asia

Penyebaran flu babi kian meluas. Kabar terkini, penyakit menular ini ini sudah masuk Asia dan menjangkiti 15 negara.

Hanya dua pekan sejak virus flu babi pertama kali terdeteksi di Meksiko 13 April lalu, kini sudah menyebar cepat ke berbagai belahan dunia. Tidak hanya negara di benua Amerika dan Eropa saja, virus mematikan ini sudah masuk Asia, menjangkiti Korea Selatan dan Thailand. Terakhir, flu babi sudah menyeberang  samudera Pasifik dan menjangkiti seorang warga di Australia yang bertetangga langsung dengan Indonesia.
Data yang diperoleh, hingga kemarin flu babi sudah merenggut 150 korban jiwa di Meksiko dan lebih 16 ribu jiwa lainnya mendapat perawatan. Di beberapa negara lainnya, korban masih terus diidentifikasi termasuk yang masih dalam dugaan susfect flu babi. Para ahli terus bekerja keras mencari penangkalnya, namun hingga kini belum ditemukan.
Melihat fakta itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, dunia tanggap darurat global flu babi. Sejak pekan lalu, WHO membagi-bagikan termoscanner di beberapa negara dalam rangka mengeliminir penyebaran virus mematikan ini.
Dunia memang benar-benar sedang dicekam ketakutan flu babi, termasuk Indonesia. Dengan penduduk lebih 200 juta jiwa, penyebaran flu babi di Indonesia mengancam banyak jiwa dan diprediksi sulit dikendalikan. Karena itulah pemerintah memberikan perhatian serius, salah satunya memperketat pengawasan di pintu-pintu gerbang wisatawan.
Sebagai salah satu pintu gerbang, Bandara Polonia Medan, mengefektifkan alat pendeteksi panas tubuh yang dipantau langsung oleh dua petugas Karantina Kesehatan.
Menurut Ferdinand Ginting, seorang operator alat pemantau suhu tubuh bandara Polonia, sampai saat ini belum ada warga asing maupun warga negara Indonesia yang melakukan perjalanan lewat bandara Polonia terinfeksi flu nabi. “Walaupun begitu, alat monitoring suhu tubuh akan diaktifkan sampai ada imbauan langsung bahwa Indonesia aman. Jadi masyarakat tidak perlu takut, kami akan terus pantau,” jelasnya.
Tidak hanya manusia. Hewan pun, khususnya ternak babi, tidak luput dari pengawasan. Namun Kasubdin Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Sumut, Alfian S Pane menyayangkan karena  sampai saat ini vaksin yang tersedia guna ‘menghadapi’ flu babi belum ada. Padahal Sumut wilayah yang produksi ternak babinya paling besar. Saking besarnya, ternak tersebut dikirim ke Jakarta sampai juga ada yang diekspor ke Singapura.
“Karena itu kita hanya bisa sarankan agar para peternak, menjaga kebersihan kandang dan sanitasinya,” katanya.
Alfian menjelaskan, yang paling berpotensi berbahaya adalah peternak rumah tangga karena biasanya mereka melakukan perawatan ala kadarnya.
Di tempat terpisah, Ketua Badan Lingkungan Hidup Pemprovsu Prof Syamsul Arifin MH mengingatkan,  munculnya wabah flu babi bisa saja akibat ketidakpedulian terhadap lingkungan serta buruknya sanitasi. Sumut harus melakukan langkah antisipatif untuk mencegah masuknya wabah tersebut dengan memperbaiki kualitas lingkungan.
Syamsul yang baru pulang dari Canchun Meksiko, mengetahui adanya wabah tersebut ketika dalam perjalanan pulang menuju tanah air.
“Dalam perjalanan ke bandara terlihat orang memakai masker, dan ketika transit di London kita diberi kuesioner menyangkut kondisi kesehatan,” katanya.
Dalam kaitan flu babi, Ketua Komisi E DPRD Sumatera Utara Budiman P Nadapdap meminta agar jajaran Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan Provinsi dan kabupaten/kota se-Sumut cepat tanggap.
“Ini harus dicermati, dinas terkait perlu menata dan memanage seluruh kebutuhan masyarakat di wilayahnya masing-masing. Seluruh bupati agar tanggap, ini soal keselamatan dan kesehatan manusia,” katanya.HARIAN GLOBAL

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: