Dendam Kesumat Pasutri Tionghoa yang Anaknya Tewas Dibakar Pembantu, ‘Anakku akan Gentayangan Mengikutimu’

MEDAN-DENDAM kesumat Suhendri alias Abok dan istrinya Sayna Irawan alias Wiwin terhadap mantan pembantunya Sri Wahyuni Binti Naswan als Sri (17), yang membakar rumah, hingga kedua anak mereka tewas terpanggang, seakan tak pernah habis. Bahkan, sangkin dendamnya, pasutri berdarah Tionghoa itu sempat bersumpah, kalau arwah kedua anaknya akan terus gentayangan mengikuti Sri, warga Cilacap, Jawa Tengah itu hingga ke liang lahat.

“Anakku akan gentayangan terus, sampai kau mati mereka akan mengikutimu terus, mampuslah kau. Memang nggak tahu balas budi kau,” teriak Wiwin. Sumpah serapah itu diutarakan Wiwin saat Sri digiring petugas dari tahanan sementara menuju ruang sidang III, beberapa menit sebelum sidang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan, kemarin (30/4) siang.

“Orang kampung memang lugu-lugu, tapi sadisnya, aduhhh nggak tanggung, kurang baik apalagi kami samamu Sri!! Selama kamu tinggal di rumah kami, apa yang kami makan pasti kami berikan untuk kamu. Kedua anak kami pun nggak pernah kasar samamu, jadi apa maumu sehingga tega melibatkan anakku. Sehingga anakku yang tak berdosa itu harus mati, aduh sakit kali hatiku,” jerit Wiwit dan Abok dengan linangan air mata.

Mendegar celetukan mantan majikannya, Sri tak mampu berkata apa-apa, bahkan memandang wajah kedua mantan majikannya itu saja ia tak mampu. Sri hanya tertunduk sembari menangis. Meski begitu, Wiwin tetap tak terima, ia dan suaminya (Abok-red) tetap memojokkan Sri di hadapan jaksa dan pengunjung sidang lainnya. “Di dunia ini, cuma kaulah Sri yang sangat tega membakar rumah majikan dan anaknya. Bayangkan ya, sewaktu anakku masih hidup dulu, membunuh semut pun nggak tega mereka, kalau kau memang luar biasalah sadisnya,” beber Wiwit.

Ocehan dan makian Wiwin dan suaminya baru berhenti setelah hakim Catur Irwantoro SH yang menyidangkan kasus itu masuk ke ruang sidang, dan langsung membuka gelaran sidang yang tertutup untuk umum itu. Kali ini, sidang beragendakan tanggapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fitri Sumarni SH atas eksepsi kuasa hukum Sri, Abdul Jolil Siregar SH.

Jaksa menegaskan, kalau eksepsi kuasa hukum terdakwa yang menyatakan nama Sri Wahyuni Binti Naswan dalam dakwaan tidak sama dengan nama ayahnya, yang nama depannya Sumarta Naswan bukanlah kesalahan dari pihak kejaksaan, tapi soal itu memang sudah ada dari BAP pihak penyidik sebelumnya. Karena itu jaksa menganggap kalau dakwaan tidak kabur, jaksa pun memohonkan pada majelis hakim untuk menolak eksepsi kuasa hukum Sri. Usai mendengarkan tanggapan jaksa, dan untuk agenda putusan sela, sidang ditunda hingga Senin (4/5) mendatang.

Usai sidang ditutup, Wiwin dan Abok yang ditemui POSMETRO MEDAN enggan berkomentar, “nggak-enggak, maaf ya,” ujar Abok sembari menggiring istrinya meninggalkan geduang pengadilan. Namun, meskipun Abok dan istrinya telah berlalu, tapi Boru Pohan yang mengaku tante dari Natasya Sowin (13) dan Melvin Sowin (14), anak Wiwin dan Abok yang tewas terbakar itu angkat bicara dan merepeti pengacara Sri (Abdul Jolil Siregar SH-red).

“Kami mohon keadilanlah sama bapak. Bapak punya anak juga kan? Cemana kalau anak bapak yang menjadi korban si Sri, pasti bapak tahu apa yang kami rasakan sekarang,” cerca Boru Pohan pada Abdul Jolil. Menanggapi hal itu, dengan tenang, Jolil pun memberikan pengertian pada Boru Pohan itu, “saya mengerti apa yang keluarga ibuk rasakan. Saya hanya menjalankan tugas sesuai dengan ketentuan hukum saja, yang jelaskan hakim nanti yang memutuskannya,” ungkap Jolil, sehingga Boru Pohan sedikit mengerti.

Sekadar mengingatkan,dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fitri Sumarni SH menyebutkan, Sri diseret ke pesakitan bermula ketika dirinya jadi pembantu di rumah Wiwin. Ternyata bukan Sri saja yang bekerja sebagai di rumah itu, tapi berdua dengan Hartini (juga ikut tewas terbakar-red). Menurut jaksa, selama bekerja di rumah itu, Sri mengaku sering dijelek-jelekkan rekannya (Hartini-red) di depan majikannya.

Sakit hati sering diburuk-burukkan di depan majikan, Sri pun menaruh benci dan dendam pada Hartini. rekan seprofesinya yang sebelumnya sempat menghasutnya kepada Abok, majikan laki-lakinya. Singkat cerita, karena dendam, Sri berencana membunuh rekan seprofesinya itu dengan cara membakarnya hidup-hidup. Begitulah, tanggal 20 Februari 2009 lalu, saat kedua majikannya ke luar kota, Sri pun melaksanakan rencana jahatnya. Saat mempersiapkan bensin, oleh Sri kamar Hartini pun dikunci dari luar. Tapi karena situasi malam itu tak mendukung, Sri pun menunda dan menjalankan rencananya pada subuh hari, ketika Hartini dan anak majikanya belum bangun.

Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, Sri yang tidur satu kamar dengan Hartini, hari itu lantas bangun pagi-pagi dan langsung menjalankan niatnya. Setelah mengemas bajunya dalam tas koper, Sri langsung membakar rumah majikannya itu. Selanjutnya ia pun kabur ke kampung halamannya. Kontan saja, Hartini yang terkunci terkunci dalam kamar bersama anak majikannya yang tidur di lantai III tak bisa berbuat apa-apa, hingga ketiganya pun tewas terpanggang. Tapi sial, setelah diburon seminggu, akhirnya polisi menciduk Sri dari kampungnya. Atas perbuatan itu, Sri dijerat jaksa melanggar Pasal 340 KUHP Jo UU No 3 Tahun 1997 tentang pembunuhan berencana dan peradilan anak. (Syahrul)POSMETRO-MEDAN.COM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: