Lagu “Aku Cinta Rupiah” = Kekayaan Capres/Cawapres?

Aku cinta Rupiah, biar dollar dimana-mana.
Aku suka rupiah karena kutinggal di Indonesia.
Beli baju pakai rupiah, jajannya juga pakai rupiah,
Mau beli buku sekolah pakai rupiah.
Lihat tabunganku isinya rupiah, karena mamaku kasihnya rupiah.

Cindy Cenora – “Aku Cinta Rupiah”

Sewaktu krismon 1997-1998, lagu “Aku Cinta Rupiah” menjadi bagian dari lagu anak-anak. Aku Cinta Rupiah dinyanyikan oleh Cindy Cenora dengan lirik kurang lebih seperti diatas (maaf, jika liriknya salah). Lagu itu muncul sebagai antisipasi sekaligus himbauan agar masyarakat tetap setia menggunakan dan menyimpan uang rupiah. Tidak sedikit mereka menjual rupiah dan membeli rupiah karena dilandasi ketakutan kekayaannya merosot karena nilai tukar rupiah menurun. Aksi pembelian dollar yang begitu deras diiringin tingkah lakuh para spekulan untuk mencari keuntungan dari transaksi valas.

Di kuartal ke-empat 1997, tepatnya September rupiah sudah terjun bebas dibarengan merosotnya Bursa Efek Jakarta (sebelum Bursa Efek Indonesia). Meskipun krisis rupiah dimulai pada Juli dan Agustus 1997, krisis ini menguat pada November ketika efek dari devaluasi di musim panas muncul di neraca perusahaan. Perusahaan yang meminjam dalam dolar harus menghadapi biaya yang lebih besar yang disebabkan oleh penurunan rupiah, dan ditambah aksi para sepekulan menjual rupiah yang menganjlokan nilai rupiah lebih dalam lagi.

Karena krisis moneter inilah, pada akhirnya hegemoni Orde Baru ditumbangkan oleh para mahasiswa dan aktivitis pejuang hak asasi dan demokrasi pada tanggal 21 Mei 1998. Sebelumnya, kerusuhan 12-14 Mei 1998 telah menewaskan ratusan orang, wanita-wanita yang diperkosa dengan jumlah tidak terkira, gedung dan aset dibakar dan penjarahan terjadi di berbagai sudut kota terutama Jakarta dan Solo.

Rupiah IndonesiaRupiah Indonesia

**********
Lagu “Aku Cinta Rupiah” ternyata tidak mampu secara signifikan memberi semangat rakyat Indonesia agar tetap cinta rupiah tanpa melakukan aksi-jual beli rupiah yang cenderung merugikan bangsa dan negara. Salah satu bentuk cinta produk dalam negeri tentunya adalah menyimpan semua aset dan kekayaan dalam mata uang Indonesia sendiri, yakni Rupiah. Bukan menyimpan harta dalam bentuk dollar Amerika, Euro Eropa atau Yen Jepang. Kondisi ini berbeda jika dollar digunakan  hanya sebagai transaksi perdagangan komoditas atau kepemilikan saham luar negeri.

Mari kita lihat Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) para Capres/Cawapres 2009-2014 [kompas].

No

Capres/Cawapres

Nilai Kekayaan

% Kekayaan dalam US$

Miliar Rp Ribu US$

1

Prabowo Subianto

1579 miliar

7500 ribu

4.8%

2

Jusuf Kalla

314 miliar

25.7 ribu

0.1%

2

Megawati Soekarnoputri

256 miliar

0

0.0%

3

Wiranto

81.7miliar

378 ribu

4.6%

5

Boediono

22 miliar

15 ribu

0.7%

6

Susilo Bambang Yudhoyono

6.8 miliar

246 ribu

27.5%

  • Data tersebut saya olah dengan pembulatan nilai kekayaan
  • Kurs yang saya gunakan adalah Rp 10.500 per dolar AS
  • % kekayaan dalam US% menunjukkan rasio perbandingan kekayaan capres/cawapres dalam dollar terhadap total kekayaannya.
  • Dari tabel diatas, maka ada beberapa data yang perlu kita analisis:

    • Urutan kekayaan terbesar dalam bentuk US$ : Prabowo, Wiranto, SBY, Jusuf Kalla, Boediono, Megawati.
    • Rasio kekayaan dalam US$ : SBY, Prabowo, Wiranto, Boediono, Jusuf Kalla, Megawati
    • Prabowo dan Jusuf Kalla merupakan pengusaha (mantan). Prabowo memiliki bisnis di luar negeri sehingga mungkin kekayaanya dalam bentuk dolar. Sedangkan suami Mega dan istri Wiranto juga terjun dalam dunia bisnis. SBY dan Boediono hanya seorang birokrat nan pengusaha. Sehingga timbul pertanyaan mengapa SBY menyimpan 27.5% kekayaaan dalam bentuk dollar US$?
    • Mengapa Megawati tidak menyimpan kekayaannya dalam bentuk rupiah dollar?
    • Mengapa SBY, Wiranto dan Prabowo (sama-sama Jenderal berbintang) memiliki kekayaan yang begitu besar dalam bentuk dollar? Untuk apakah dollar? Apa untuk bisnis luar negeri, lebih bangga (cinta/love) memiliki kekaayaan dalam bentuk dollar atau jangan-jangan untuk spekulasi.

    Semestinya seorang pemimpin memberi contoh sikap nasionalisme kepada rakyatnya dalam berbagai aspek. Dari penggunaan produk dalam negeri (Aku Cinta Produk Indoneia), menggunakan tenaga/perusahaan dalam negeri untuk mengelola pertambangan, perminyakan, industri strategis, hingga “Aku Cinta Rupiah”… Dari fakta dan perbuatan, kita tahu apakah kampanye capres/cawapres hanya “jargon semata” bahwa ia seorang nasionalis atau pencinta asing(Amerika)… Silahkan mencari data dan fakta yang lebih detil, dan jangan tertipu iklan dan jargon titik

    Salam Perubahan, putrarafflesia

    Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: